Tanpa Jeda

Momy tahukah Mom, aku lelah menunggumu. Namun aku bisa apa Mom. Protes? Tidak. Aku tahu Mom, engkau pulang dengan sisa kelelahan. Pekerjaanmu di ranah publik telah banyak menyita waktumu. Sementara aku berharap Momy selalu ada untukku. Aku cuman ingin Momy saja. Jangan yang lain.

Momy, aku janji akan jadi anak baik di rumah. Aku akan jadi anak manis yang tidak pernah rewel. Aku akan membuatkan Momy secangkir coklat hangat di sore hari dan kita menikmati sore di teras memandang bunga-bunga.

Mom, kelak aku besar nanti, aku akan bilang kepada istriku bahwa ia harus di rumah dan siap menantiku.
Mom, kelak aku besar nanti, aku akan ijin pada suamiku untuk di rumah saja agar aku bisa menanti kepulangannya.

Momy, sebenarnya aku tak ingin kehilangan Momy sedikitpun bahkan 24 jam terasa tak cukup Mom. Aku butuh banyak waktu bersamamu, karena aku ingin belajar hanya darimu saja. Bukan dari yang lain. Jadi Momy, aku akan bilang kepada Tuhan untuk memudahkan jalanmu menemaniku, bermain denganku. Dan meminta kepada Tuhan untuk memberi rejeki dengan cara yang lain.

Seperti detik yang berlalu tanpa jeda. Seperti rasa kasih dan cinta Momy kepadaku tanpa jeda. Maka aku berharap dalam hati selalu bersama Momy tanpa jeda.

***
Dan seperti itulah yang Arkaan dan Aqila katakan kepadaku jika aku masih berada di ranah publik. Maka dengan segenap jiwa, cinta dan pengharapanku kepada hidup. Aku tahu apa yang harus aku lakukan bahwa menjadi ibu yang selalu ada untuk keluarga. Ibu yang selalu mengutamakan keluarga, ibu yang selalu menjadi pertama ketika suami dan anak-anaknya membutuhkannya. Ibu yang bahagia. Ibu yang selalu hadir tanpa jeda.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips dan Trik Mudah Menulis Cerita Anak

Buku Pertama

Cerita Dibalik Kura-Kura