Titik Akhir di Negeri Peri Part 4

Kubuka mata perlahan, Ibu mengenggam erat tanganku.
"Bu, Dessa kira Dessa tidak akan bertemu Ibu lagi" aku langsung mulai bicara.
"Dessa, jangan terlalu memikirkan hal yang sudah terjadi. Berusahalah untuk ikhlas" Ibu malah menasehatiku.
"Dokter bilang, jika pikiranmu sudah tenang, kamu boleh pulang ke rumah" Ibu melanjutkan.
Sebenarnya aku tak ingin memikirkan masa laluku. Namun terkadang sakit hati itu muncul kembali. Disini dihatiku.

Aku kini melihat wajah Ibuku, wajah yang selalu tegar dalam kondisi apapun.
"Sa, Bapakmu itu sebenarnya baik, hanya saja ada yang belum tuntas dengan masa lalunya.
Bapak pernah bercerita ke Ibu, sering dipukul oleh orangtuanya. Efeknya Bapak mengalami banyak ganguan jiwa setelah dewasa. Kadang Bapak marah-marah terhadap sesuatu dan melampiaskan ke Ibu. Padahal sesuatu itu bisa dihadapi dengan kepala dingin. Tapi tidak untuk Bapak. Bapak akan mencari seribu kelasahan Ibu. Tapi Sa, bagaimana pun juga Bapak adalah orang yang setia dan sayang dengan keluarganya. Kita seharusnya paham akan kondisi Bapak" wajah Ibu berkaca-kaca menceritakan Bapak dihadapanku.

Ibuku ini penganut pepatah jawa, nrima ing pandum. Nrima Ing Pandum memiliki arti menerima dengan pemberian. Dalam kajian lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau legowo dalam menghadapi setiap lika-liku hidup. Begitulah Ibu, dia tegar dengan segala hal. Dan menciptakan kekuatan untuk dirinya sendiri.

#30DWC
#30DWC13
#squad2
#DAY5

#ODOPfor99days

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips dan Trik Mudah Menulis Cerita Anak

Buku Pertama

Lamaran Tukang Gojek